Oleh : Ahmad Rofi’i, SH

Seringkali kalimat Uswatun Hasanah diucapkan oleh seorang disaat berpidato, ceramah, khutbah, pengajian, dan kuliyah-kuliyah agama Islam. Dan kalimat uswatun hasanah selalu diucapkan berdampingan dengan kalimat Muhammad Rosululloh S.A.W. Terlebih lagi pada saat bulan Hijriyah Robi’ul Awwal seperti sekarang ini, dimana banyak ummat Islam yang menyelenggarakan tasyakkuran, peringatan dalam rangka kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. atau biasa disebut dengan istilah “Maulidin Nabi Muhammad S.A.W”. dan karenanya bulan Robi’ul Awwal ini dinamakan pula bulan Maulud yaitu bulan kelahiran Rosululloh. Tentu kita semua sudah mengetahuinya, apakah artinya kalimat uswatun hasanah? Dari manakah sumbernya kalimat uswatun hasanah? Dan apakah makna uswatun hasanah bagi kita?

 Arti kalimat

Kalimat uswatun berarti contoh, dan hasanah berarti baik, uswatun hasanah artinya contoh yang baik. Mungkin kita tidak pernah bertanya, mengapa kalimat contoh atau uswatun itu selalu bergandengan dengan kalimat baik atau hasanah. Apakah kalimat contoh atau uswatun boleh digandengkan dengan kalimat tidak baik/jelek atau sai’ah sehingga menjadi uswatun sai’ah ? Tidak.

Kalimat contoh dalam bahasa Indonesia mengandung makna bahwa sesuatu yang dikatakan contoh itu harus diikuti atau harus ditiru/dicontoh. Sehingga kalau kita mengatakan bahwa Muhammad Rosululloh itu contoh yang baik, maka maknanya Muhammad Rosululloh itu harus diikuti, harus ditiru, harus dicontoh. Artinya kita harus selalu berusaha menurut kemampuan untuk mengikuti, meniru, mencontoh Muhammad Rosululloh. Tentu saja dalam artian dalam batas-batas tertentu yang dicontohkan oleh beliau. Dan sebaliknya bila dikatakan Fir’aun itu contoh jelek, maka maknanya Fir’aun itu harus diikuti, harus ditiru, harus dicontoh. Apakah demikian? Tentu tidak. Kalimat Fir’aun itu contoh yang jelek mengandung makna suatu pelajaran, suatu peringatan bagi kita agar tidak mengikuti, tidak meniru, tidak mencontoh Fir’aun. Dengan kata lain Fir’aun itu bukan contoh, bukan uswatun, tetapi suatu pelajaran dan peringatan dari Alloh Ta’ala agar kita tidak melakukan sesuatu seperti yang telah dilakukan oleh Fir’aun.

Makna

Di dalam Al-qur’an kalimat uswatun hasanah itu disebut sebanyak tiga kali, Pertama :  “Laqod kaana lakum fii rosuulillahi uswaatun hasanatun liman kaana yarjuulloha wal yaumal akhiro wadzakarollaha katsiron” artinya sesungguhnya telah ada pada (diri) rosululloh itu suri tauladan/contoh yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rohmat Alloh dan (keselamatan pada) hari kiyamat dan dia banyak menyebut Alloh. QS-Al-ahzab (33) : 21. Kedua : “Qod kaana lakum uswatun hasanatun fii ibrohim walladzina ma’ahu” artinya : Sesungguhnya telah ada suri tauladan/contoh yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia. QS-Al-Mumtahinah (60) : 4. Ketiga : “Laqod kaana fiihim uswatun hasanatun liman kaana yarjuulloha walyaumal akhiro” artinya : Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada suri tauladan/contoh yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rohmat Alloh dan kedatangan hari kiyamat QS-Al Mumtahinah (60) : 6.

Dari ketiga ayat dapat kita ambil pokok-pokok pengertian bahwa, pertama : Sungguh telah ada pada diri Muhammad S.A.W. dan Ibrohim A.S. Serta umatnya suri tauladan/contoh yang baik, kedua : bagi orang-orang yang mengharap rohmatulloh, kedatangan hari kiyamat, dan dia banyak menyebut nama Alloh. Dan perlu diingat bahwa diantara tugas Rosululloh Muhammad SAW adalah pertama : Uswatun Hasanah (Suri tauladan/contoh yang baik), kedua : Rohmatan Lil ‘alamin

(untuk rohmat seluruh alam).

Apakah maknanya uswatun hasanah bagi kita? Apakah kalimat uswatun hasanah cukup kita ucapkan diwaktu kita sedang berpidato, ceramah, khutbah, pengajian atau kuliyah-kuliyah agama Islam? Ataukah cukup ditulis dalam sebuah buku atau artikel seperti ini? Pastilah kita sepakat untuk menjawab tidak demikian tentunya. Lalu kita harus bagaimana? Ini sebuah pertanyaan yang patut kita tujukan pada diri kita masing-masing sebagai ummat Muhammad, untuk direnungkan, difahami, dihayati dan ditemukan jawabannya untuk diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Di bulan Maulidin Nabi, bulan yang penuh berkah ini sudah selayaknya kita memaknai nilai uswatun hasanah beliau dalam dua hal :

 

Pertama : Kita berusaha mengikuti, meneladani uswatun hasanah beliau menurut kemampuan. Sebagai contoh : beliau Muhammad Rosululloh pernah merasakan betapa sedih dan pedihnya menjadi anak yatim, menjadi faqir dan miskin sehingga beliau menyeruhkan agar kita memperhatikan anak yatim, orang faqir dan miskin. Maka kita  mengikutinya dengan memperhatikan atau menyampaikan santunan kepada anak yatim, orang faqir dan miskin. Beliau menyampaikan bahwa uswatun hasanah itu bagi kamu yang mengharap rohmatulloh (QS-Al-Ahzab: 21), maka kitapun mengikuti uswatun hasanahnya dengan mengharap rohmatulloh yaitu berusaha untuk tetap didalam alladzina amanuu (beriman), alladzina haajaruu (hijrah), alladzina jaahaduu (jihad), sebagaimana diterangkan dalam Al-qur’an surat Al-baqoroh (2) ayat 218 : “Innalladzina amanuu walladzina haajaruu wajaahaduu fii sabiilillah, ulaaika yarjuuna rohmatallohi wallohu ghofuurun rohiimun” artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Alloh, mereka itu mengharap rohmat Alloh. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadi yang dinamakan orang-orang yang mengharap rohmat Alloh itu bukan orang yang berangan-angan saja, tetapi orang-orang yang ada tiga unsur tesebut pada diri mereka.

 Kedua : Kita harus berusaha untuk menjadi contohyang baik atau suri tauladan yang baik bagi diri kita sendiri dan masyarakat menurut bidangnya masing-masing.

 Seorang penulis haruslah menjadi contoh yang baik bagi pembacanya. Sebagai penulis yang baik tentu saja tidak boleh hanya pandai menulis diatas kertas, atau menulis di buku, atau menulis di majalah, tetapi harus pandai pula menulis di masyarakat. Artinya: boleh saja kita menulis bermacam-macam diatas kertas atau majalah, tetapi tulisan-tulisan kebaikan itu haruslah diaplikasikan  di masyarakat dengan amal-amal sholeh. Apabila Sang Penulis hanya pandai menulis diatas kertas saja, tentu bukanlah contoh yang baik.

 Seorang pendidik haruslah dapat menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Apabila mengajarkan kepada murid-muridnya tentang kebaikan, tentu saja sebagai contoh yang baik Sang Guru haruslah terlebih dahulu berbuat kebaikan. Apabila  mengajarkan kedisiplinan, maka Sang Guru haruslah terlebih dahulu selalu disiplin. Dan apabila mengajarkan membaca dan menulis kepada murid-muridnya, maka Sang Guru harus terlebih dahulu dapat membaca dan menulis. Bagaimana seandainya Sang Guru yang tidak dapat membaca dan menulis mengajarkan membaca dan menulis? Bagaimana Sang Guru yang tidak bisa disiplin mengajarkan disiplin? Tentu bukan contoh yang baik bagi murid-muridnya. Bahkan hal itu sangat bertentangan dengan nilai pendidikan itu sendiri. Setidaknya para pendidik di Indonesia ingat akan semboyan dari tokoh pendidikan nasional Indonesia Ki Hajar Dewantoro yang berbunyi : Ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh yang baik), ing madya mangun karso (di tengah memberi dukungan dan semangat), tutwuri handayani (di belakang memberi dorongan).

 Seorang Mubaligh harus dapat menjadi contoh yang baik bagi pengikutnya. Seorang pemimpin negara atau penguasa harus dapat menjadi contoh yang baik bagi rakyatnya. Seorang bapak harus dapat menjadi contoh yang baik bagi keluarganya. Kita sendiri harus dapat menjadi contoh yang baik untuk diri kita sendiri dan orang lain.

 Sebagai penutup artikel ini patutlah kita renungkan  dua dalil sebagai berikut :

Pertama : “Yaa ayyuhalladziina aamanu lima taquuluna maa laa taf’alluuna” Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu berkata sesuatu yang tidak kamu kerjakan. QS-Ash-shoff (61) : 2.

Kedua : “Kullu roo’in mas’ulun ‘an ro’iyatihi”  Tiap-tiap pemimpin akan ditanya dari hasil pimpinannya”. Kitab hadits Jaami’us Shoghir jilid II bab huruf kaf halaman 280. (#Ofi#).Pengurus YPS Pusat

 ALHAMDULILLAHIROBBIL’ALAMIN