oleh: M. Yazib Busthomi

Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah hamba yang bersyukur kepada Alloh S.W.T. yang telah memberi nikmat yang tiada henti-hentinya. Mari kita berlomba-lomba untuk menggapai ridloNya. Tanamkan kesungguhan dan keyaqinan pada diri kita untuk hijrah dari kemalasan kepada keyaqinan, dari pertengkaran kepada kedamaian, dari kekikiran kepada kedermawanan, dan dari sifat-sifat buruk yang lain kepada kebaikan, dengan kata lain setiap muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari-kehari. Seperti hadits Rasulullah yang sangat populer menyatakan : “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, berarti dia adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti dia adalah orang yang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin dan dia orang yang celaka.” Dan hendaklah setiap diri memperhatikan (introspeksi) tentang apa saja yang selama ini telah kita perbuat untuk hari esok (alam akhirat).

            Semoga didalam bulan kelahiran Nabi kita ini menciptakan perenungan tersendiri terhadap diri kita bahwa akan berkurangnya umur kita, sementara investasi amal/pahala kita untuk simpanan di akhirat masih sangatlah minim/tipis bila kita bandingkan dengan nikmat-nikmat Alloh yang setiap detik mengalir pada diri kita tiada henti. Dari sisi ini saja seharusnya kita merasa malu kepadaNya (Alloh), dimana kita selalu mengaku sebagai hamba Alloh, tapi dalam banyak banyak hal orientasi kita mengkonsumsi nikmat-nikmat Alloh dan akan tetapi kita selalu lupa bersyukur kepadaNya, bahkan kita sering mengaktualisasikan diri kita sebagai hamba dunia, bahkan diri kita juga mengaku bahwa rizki sudah diatur oleh Alloh. Tetapi mengapa kita tidak pernah tenang dalam mencarinya (rizki). Bahkan selama ini kita meyakini kematian pasti tiba, tetapi kenapa kita menjalani  kehidupan di bumi Alloh S.W.T. dengan kesombongan, seakan ajal (kematian) tak akan datang pada diri kita.

            Kenapa selama ini kita masih saja banyak sibuk menginvestasikan kepentingan dunia daripada investasi untuk akhirat. Dengan Peringatan Maulid Nabi ini, semoga semangat untuk membangun kemegahan akhirat akan lebih kuat dari semangat untuk membangun kemegahan dunia.

Oleh karna itu di bulan kelahiran Nabi ini, kita perlu merenungkan diri sejenak untuk mencapai kesadaran dan pelaksanaan lebih baik dari hari kehari, bukan hanya slogan yang indah, tetapi tanpa realisasi. Dengan semangat dan keyakinan mari kita bangun kesuksesan dunia dan akhirat, dan sudah sepatutnya Rasulullah S.A.W. sebagai panutan kita dalam berkehidupan berbangsa dan beragama, dengan menegakkan sunnah-sunnahnya, dan bersyukur kepadaNya setiap saat, bahwa kita masih dipercaya menjalani kehidupan ini. Dan buatlah hidup ini menjadi suatu ‘IBADAH’. “Akhir kata dari kami : Mari di Peringatan Maulid Nabi ini semoga semangat kita bertambah untuk mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan tentunya kita semua berharap dengan Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. ini kehidupan kita lebih baik dari hari ke hari, baik bagi kita pribadi, masyarakat sekitar kita, negara tercinta ini, dan bumi yang kita diami sa’at ini. Amien”. * Ustadz Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal banat