Oleh: Kholifah Tasrichul Adib Aziz

Pertanyaan:

Pengasuh Rubrik Konsultasi yang saya hormati. Diantara bedanya Shiddiqiyyah dengan umat Islam kebanyakan adalah fahamnya yang mengatakan hukum tiga sholat hari raya itu ialah wajib. Sementara faham mayoritas umat Islam khususnya di Indonesia mengatakan Sholat Iedul Fitri, Iedul Adha, Sholat Jum’at itu adalah sunah. Dan umumnya tiga sholat itu dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau musholla di banyak tempat, termasuk didalamnya murid Shiddiqiyyah menjadi bagian dari jamaah itu.

Pertanyaan kami, apakah dibenarkan sholat berjamaah bagi mereka yang berbeda niat.  Misalnya Imam mengatakan Sunah dan makmum niatnya wajib atau sebaliknya. Apakah sah sholatnya makmum yang tidak mengikuti imam dalam satu jamaah ? Dan apakah fungsinya jamaah dalam kasus seperti itu ? Terimakasih sekali atas perkenan pengasuh rubrik konsultasi untuk memberikan jawaban dan penjelasan.

 Abdul Ghony —-  Jombang, Diwek, Jati Pelem, Rt / Rw – 06 / 02 no.14

No Hp. 085735323201

 Jawaban:

Niat merupakan hal yang paling pokok di dalam beribadah. Beribadah tanpa niat tidak akan sah, tidak akan diterima oleh Alloh. Di dalam surat Al Bayyinah ayat 5 diterangkan:

“Wamaa umiruu illa liya’budulloha muhlisina lahuddin”. Dan tiadalah disuruh mereka kecuali supaya beribadah kepada Alloh dengan niat yang Ikhlas, baginya adalah agama Alloh. Didalam Hadist diterangkan : “Innamal a’malu binniyat wa innama likullimriin maa nawaa”. Bahwasanya segala amal itu tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap – tiap orang itu terletak kepada apa yang ia niatkan.

Imam Yahya bin Syarifuddin An Nawawi menerangkan dalam kitabnya “Syarah Arbain Nawawiyah” bahwa fungsi niat itu ada 3 :

1.   Litamyizil Adat minal ibadah, artinya untuk membedakan antara amal adat dan amal ibadah.

Contoh: makan, minum, mandi, membersihkan pakaian, nikah, adalah perbuatan adat atau kebiasaan yang dilakukan manusia. Setelah Al Qur’an turun, didalamnya juga memuat perintah – perintah makan, minum, mandi, nikah, dlsb. Kalau pekerjaan – pekerjaan tersebut tidak kita niati melaksanakan perintah – perintah Alloh,  maka jatuhnya adalah amal adat. Tapi, kalau kita niati melaksanakan perintah Alloh, maka amal kita jatuh menjadi amal ibadah.

2.   Litamyizi Rotbil Ibadah, artinya untuk membedakan tingkatan – tingkatan ibadah. Ibadah itu ada tingkatannya. Ada ibadah nilai wajib dan sunnat. Ada sholat wajib dan sholat sunnat. Antara sholat wajib dan sunnat pekerjaannya sama, yang membedakan hanya terletak pada niatnya saja.

3.   Litashihil A’mal, artinya untuk sahnya amal – amal manusia. Dalam hadist Qudsi diterangkan bahwa Alloh tidak akan menerima amalan apapun kalau tidak diniati semata – mata karena Alloh. (Kitab Jamius Shogir jilid II / huruf  Qof / hal.136). dalam hadist lain diterangkan : “Wainnama likullimriin  ma nawa”, artinya : bagi tiap – tiap orang memperoleh dari apa yang ia niatkan.

Shiddiqiyyah mempunyai pendapat bahwa: Sholat ‘Idul Jum’at dan ‘Idul Fitri, dan Shalat Idul Adha, ketiganya hukumnya adalah wajib. Karena berdasar hadist :

1.   “Innalloha Qodiftarodlo Shalatal jum’ati” (al hadist). Artinya, sesungguhnya Alloh telah mewajibkan Sholat Jum’at.

2.   “Al’idani wajibani ‘ala kulli halimin min dzakarin wa untsa”. Artinya: Sholat dua hari raya (maksudnya idul fitri dan idul adha) adalah wajib atas semua orang yang Baligh, baik laki – laki maupun perempuan.” (dari Ibnu Abbas Riwayat Dailami).

-     Untuk itu didalam mengerjakan Sholat Idul Jum’at , Sholat Idul Fitri maupun  Sholat Idul Adha, maka kita niati dengan fardlon lilla hitaala, niat wajib melaksanakan perintah Alloh Ta’ala.

-     Adapun Sholat berjamaah antara imam dan makmum yang mungkin berbeda niatnya bagi kita tidak masalah, karena :

1.   Masalah niat adalah masalah yang ada di dalam hati, dan kita tidak tahu apa yang ada didalam hati imam.

2.   Didalam hadist diterangkan bahwa imam itu diikuti perbuatan – perbuatannya atau gerak – geraknya. Diterangkan demikian:

“Sesungguhnya imam itu gunanya supaya diikuti perbuatannya, maka apabila ia takbir, maka hendaklah kamu takbir.janganlah kamu takbir sebelum ia takbir, dan apabila ia ruku’, hendaklah kamu ruku’, dan janganlah kamu ruku’ sebelum ia ruku’, dan apabila ia sujud, maka hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu sujud sebelum ia sujud”.(Riwayat Ahmad dan abu Dawud).

Dalam hadist tersebut tidak diterangkan tentang niatnya. Jadi bagi kita yang paling penting adalah bagaimana mengatur niat kita masing – masing karena menurut Rosululloh, seseorang itu akan memperoleh tergantung apa yang ia niatkan masing – masing.

Dan fungsi berjamaah adalah agar supaya kita mendapatkan rohmat dan mendapatkan barokah dari Alloh  S.W.T. Karena dalam hadist disebutkan “Al Jama’atu Rohmatun, Al Jama’atu Barokatun” , Didalam jama’ah itu mengandung Rahmat dan mengandung Barokah.

Maka, usahakanlah jama’ah terutama sholat fardhu 5 waktu. Tetapi, kalau sholat sunnah lebih utama dirumah. Dalam hadist diterangkan: “Hai manusia, sholatlah kamu dirumahmu masing – masing, sesungguhnya sebaik – baik sholat ialah sholat seseorang dirumahnya, kecuali sholat 5 waktu” (Riwayat Bukhari Muslim).

   Alhamdulillah

(T. Adib Aziz)

08- Syawal- 1429H